Rabu, 11 Februari 2009

Come in to my life, make it a miracle…

Jakarta, Selasa 23 September 2008

2.34 pm

こんばんわ…(selamat malam)

Hunny…judul hari ini itu terinspirasi sama judul lagu Kattun, tapi arti lagu itu sama curhatan aku kali ini kaya'nya beda jauh deh…hehehe…

Oh iya salah satu temen aku ada yang istrinya baru ngelahirin loh…seru yah…tapi bukan temen yang seumuran, temen aku ini umurnya udah 30an…hehehe kan temen aku banyak yang udah berumur…aku jadi kepikiran tentang anak…dan karena aku ini perempuan yang nantinya akan menjadi seorang ibu, pastinya aku lebih concern masalah ini…

Aku pikir hamil itu adalah proses yang luar biasa…keajaiban Tuhan yang nyata dalam hidup manusia…coba deh bayangin…dari 2 sel yang keciiillll….banget…nggak lebih dari sebesar titik…tapi bisa jadi sesosok janin yang kemudian berkembang jadi bayi…itu luar biasa tau…

Bagaimana proses perjuangan sperma terkuat untuk bisa ngedeketin sel telur…perjalanan sel telur itu keluar dari ovarium…dimana ada semacam rambut-rambut yang haluuusss…banget…yang bergoyang searah untuk ngedorong sel telur itu keluar…kebayang nggak kalo ada 1 aja rambut yang nggak searah, maka sel itu akan stuck nggak bisa keluar …

Bagaimana proses pengaturan sel-sel janin tersebut…ada yang harakiri segala loh untuk ngebentuk sela-sela jari tangan…dan gimana zat-zat yang ada itu tau harus lari kemana…membentuk jaringan seperti apa, kenapa teliga bentuknya seperti itu, kenapa jari harus ada sela-selanya…bayangin deh…proses penciptaan manusia tapi berlangsung dalam tubuh manusia… dan betapa jeniusnya Allah kita yang bisa menciptakan DNA yang bisa mengatur proses pembentukan tubuh fisik maupun sifat…aku kira itu sesuatu yang luar biasa ajaib…dan aku rasa aku akan sangat bersyukur bisa merasakan semua proses itu…

Hunny…Tuhan tuh baik yah…kebayang nggak sih…anak itu kan bukti sayang dan percaya Tuhan ke kita anak-anakNya, tapi juga bukti sayang dan percaya antara sesama manusia…jadi saat kita ngeliat seorang anak, sudah seharusnya kita merasa damai and bersyukur banget…karena itu bukti cinta…percaya…yang suatu saat akan jadi seseorang, pribadi yang luar biasa…

Tadi, beberapa menit yang lalu aku abis baca majalah chic yang dikasih kak Ursulla…di dalam majalah itu ada artikel tentang kehidupan berkeluarga, aku jadi mikir…kehidupan kayak apakah pernikahan itu (terutama kehidupan pernikahan aku nanti), and akan jadi ibu kayak apa yah aku ini…

Intinya di majalah itu banyak banget aku baca artikel ataupun cerpen tentang gimana ngurus anak, gimana pengorbanan seorang ibu untuk anaknya (walau pada awalnya ibu itu terlihat sangat cuek dan nggak butuh anak tersebut)…aku jadi mikir…tepatnya aku selalu mikir…kalo cuma (cuma???) jadi istri aku yakin aku siap…aku yakin aku udah siap jadi istri yang baik, pasangan yang baik…tapi ibu yang baik???? Aku sama sekali nggak kepikiran…apa aku bisa ngalah untuk anak-anakku?

Walau kata mama pada akhirnya naluri itu akan berjalan dengan sendirinya…tapi aku tetep aja masih nggak yakin…makanya hunny…aku bener-bener pingin kita berdua siap saat ketemu, siap untuk memulai hubungan yang serius…jadi kita pun bisa kasih yang terbaik untuk anak-anak kita nanti…

Jujur aku nggak kebayang perasaan berkorban macam apa yang bisa dimiliki seorang ibu saat melihat anaknya menderita…and please…aku minta sama Tuhan aku nggak mau ngejalanin hal itu cuma untuk tau rasanya…what I'm trying to say tuh gini…aku sering banget liat mama berkorban, mengebelakangkan keinginannya karena anak-anaknya membutuhkan lebih, atau karena anaknya menginginkan sesuatu dengan sangat…aku tau sebenernya mama juga pingin…tapi demi anak, mama memilih untuk ngalah…apa aku juga akan punya perasaan kayak gitu…

Di salah satu cerpen yang aku baca, seorang ibu yang terkesan sama sekali nggak perduli sama anaknya pun rela mengambil resiko yang sangat besar dan bahkan akhirnya mengorbankan nyawanya hanya untuk memastikan bahwa masa depan anaknya nanti akan bahagia, terjamin…aku tau itu cuma cerpen…but…hunny…apa aku akan jadi ibu yang seperti itu????

Anak…

Anak itu pemberian Tuhan…mereka itu suci dan ajaib…aku harap aku bisa terus mengingat ini sampai nanti aku sendiri merasakan proses itu…aku harap surat ini bisa terus ada…sehingga bisa jadi saksi buat aku, kamu, anak kita dan Tuhan…bahwa aku pernah janji untuk hanya memberikan kalian (kamu hunny…and anak-anak kita…) hanya yang terbaik yang bisa aku kasih…

Hehehe….Kita bahkan blom ketemu tapi udah bicarain tentang anak…

Nggak apa-apa deh…coz melihat semua itu, jujur, aku sebagai perempuan merasa bangga, tersanjung, karena Tuhan memilih aku untuk menjadi channelNya dalam menghadirkan anak-anakNya ke dalam dunia ini…

So, come in to my life…and make it a miracle…

xoxo

Tertarik ≠ Naksir ≠ Cinta

Jakarta, Jum’at 6 Febuari 2009

11.04 pm

おやすみなさい hunny…(oyasuminasai hunny = selamat malam hunny…)

Kaya’nya udah lama juga yah aku nggak curhat ke kamu…nggak tau kenapa tiba-tiba aku kepikiran topik ini. Aku jadi inget sama “E” kakak cyber aku…banyak orang yang denger ceritaku mengira aku naksir sama dia…padahal jelas-jelas aku nggak naksir sama dia…tertarik? Itu iya. Coz secara fisik dia menarik, tinggi, putih, bersih. Dari segi pembawaan juga asik, enak di ajak ngobrol, royal tapi nggak sombong meski cukup berada.

Aku tiba-tiba “ngeh” bahwa di luar sana banyak orang yang kalau dalam posisi aku akan mengira dirinya sedang jatuh cinta. Thank God, aku dibiasakan sama mama untuk mengenali perasaan aku sendiri, untuk menganalisa apa yang aku rasain sebenarnya. Dulu aku sering ketuker antara naksir dengan cinta. Aku kira aku tuh cinta sama seseorang yang jadi pacarku, tapi ternyata aku cuma menikmati perasaan “being in love” bukan bener-bener in love. Jadi awalnya aku naksir dan karena saat kita naksir seseorang itu menyenangkan maka aku kira itu udah cinta. Padahal kalo ditanya lebih lagi, “Do I love him?” jawabannya sangat pasti,”Nggak!”

Oh iya, terus ada lagi, saat “E” masuk dalam kehidupan aku dan beberapa orang mengira I was in love with him, in fact aku sama sekali nggak mikir ke sana. For your info, “E” itu udah berkeluarga. So mana mungkin aku mikir yang nggak-nggak.

Yang unik adalah kehadiran “E” dalam hidup aku justru kaya’ alarm yang bikin aku inget sama kamu. Saat dia cerita tentang kehidupan dia, latar belakang pertemuannya dengan istrinya, entah kenapa semua itu aku relate ke kamu. Yang balik lagi, sebenernya bisa dengan sangat mudah disalah artikan dengan aku mengira “E” adalah jodoh aku (terlepas dari faktor dia udah punya istri). Dan saat aku memutuskan nggak mau lagi pacaran sama yang bukan soulmate, tau-tau dia menghilang dari hidup aku. Unik kan? Bener-bener kaya’ cuma sebagai reminder.

So melalui pengalaman itu, kalo sekarang ada yang nanya apakah aku tertarik, naksir atau cinta…aku bisa dengan pasti menjawab…